Mitos dan Fakta seputar Sunat

December 1, 2015

 

Sirkumsisi atau sunat adalah pemotongan ujung tepi penis pada laki-laki, pada bagian yang dikenal dengan preputium. Sirkumsisi pada laki-laki merupakan prosedur bedah tertua dan yang paling sering dilakukan di seluruh dunia.(1) Sunat biasanya dilakukan dengan berbagai alasan, baik alasan medis maupun non-medis. Alasan medis yang paling sering menjadi alasan adalah fimosis, yaitu striktura pada kuit luar penis yang membuat lubang bukaan penis mengecil dan tidak dapat kembali retraksi.(2)

 

Sirkumsisi memiliki banyak manfaat, antara lain dalam pencegahan tertularnya virus HIV/AIDS. Systematic Review dan metaanalisis yang difokuskan pada hubungan sirkumsisi pada laki-laki dan transmisi heteroseksual HIV di Afrika pada tahun 2000 menunjukkan bahwa infeksi HIV pada laki-laki yang telah di sirkumsisi 44% lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak disirkumsisi.(3)

 

WHO mengestimasi bahwa prevalensi sikumsisi adalah sekitar 33% dari seluruh laki-laki diatas usia 15 tahun di seluruh dunia, dengan dua per tiganya adalah muslim, dan sisanya adalah Yahudi dan non-muslim dan non-Yahudi yang tinggal di Amerika.(2) Area yang terbanyak penduduknya melakukan sirkumsisi adalah wilayah Afrika, Timur Tengah dan juga Negara-negara muslim di Asia (Indonesia, Pakistan, Bangladesh).(2)

 

Bagi beberapa keluarga, pilihan untuk melakukan sirkumsisi adalah sebagai ritual keagamaan. Sebagian lagi mungkin untuk alasan kebersihan dan pencegahan penyakit. Namun untuk beberapa yang lain, terutama di luar negeri, sirkumsisi mungkin merupakan hal yang kontra. Beberapa pendapat untuk tidak melakukan sirkumsisi antara lain:

 

  1. Penis dapat dibersihkan dengan antimikroba, sehingga tidak perlu sirkumsisi — Fakta: Terlalu sering membersihkan penis dapat menyebabkan peradangan dan mikroabrasi, yang dapat meningkatkan risiko masuknya virus HIV(2)

  2. Sirkumsisi dapat menyebabkan berkurangnya fungsi seksual karena terpotongnya ujung syaraf di kulit luar penis dan terjadinya penebalan epitel dari glans penis. — Fakta: tidak ada bukti yang kuat dan hasil dari beberapa penelitian yang dilakukan tidak konsisten (tidak sama hasilnya)(2)

  3. Sirkumsisi pada bayi baru lahir sangat menyakitkan. — Fakta:

    1. Penggunaan prosedur anastesi lokal dan analgesik direkomendasikan untuk neonatus, dan diharuskan pada anak yang lebih besar (2)

    2. Sirkumsisi dapat lebih lebih menyakitkan bila yang melakukannya adalah bukan tenaga medis, yang lebih jarang menggunakan anastesi(2)

  4. Sirkumsisi dapat menyebabkan infertil

    1. sirkumsisi hanya memotong kulit terluar penis, sehingga tidak mempengaruhi organ kesuburan. 

  5. Sirkumsisi berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi

    1. Sirkumsisi pada neonatus merupakan prosedur yang lebih mudah dibandingkan sirkumsisi pada dewasa dan memiliki risiko yang sangat kecil (0.2-0.4%) yang secara konsisten dilaporkan di USA dan Israel (2).

    2. Sirkumsisi haruslah dilakukan oleh tenaga yang terampil dengan kondisi perlengkapan yang steril, dan perawatan post-sirkumsisi yang adekuat.(2)

 

Indonesia merupakan salah satu negara dengan prevalensi sirkumsisi diatas 60 persen. Di negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam ini, sirkumsisi dikenal juga sebagai khitan. Selama ini pelaksanaan khitan banyak sekali diwarnai dengan berbagai mitos yang akhirnya menjadikan khitan sebagai ritual yang dimeriahkan dengan berbagai acara. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mitos  adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.(4) Sehingga, secara sederhana mitos dapat dimaknai sebagai informasi yang telah turun dari generasi ke generasi yang tidak jelas asalnya (gaib). Beberapa mitos seputar sirkumsisi/khitan dan penyelenggaraannya antara lain(5):
 

Sirkumsisi adalah adat, bukan perintah agama

Fakta: Pada sejarahnya, sirkumsisi memang merupakan adat istiadat pada beberapa suku di Afrika Selatan(6), namun memang sirkumsisi juga merupakan ajaran dari beberapa agama, seperti Yahudi dan Islam.

 

Perlu ada hari baik tertentu untuk sirkumsisi

Fakta: Pemilihan hari untuk sirkumsisi diperlukan dari segi kesehatan. Anak sebaiknya di sirkumsisi dalam kondisi sehat. Namun, pemilihan hari berdasarkan hal-hal gaib tidak diperlukan.

 

Tidak boleh menangis saat khitan karena akan mendapat jodoh janda.

Mitos. Sejauh ini tidak ada penelitian yang membuktikan adanya hubungan antara menangis saat sirkumsisi/khitan dengan jodoh di masa depan, sehingga hal ini masih digolongkan pada mitos.

 

Tidak boleh khitan bersamaan dengan saudara kandung, karena salah satunya akan bermasalah

Mitos. Sejauh ini tidak ada penelitian yang membuktikan antara saudara kandung dengan risiko sirkumsisi, sehingga hal ini dapat dikategorikan sebagai mitos.

 

Mengubur bagian kulit yang dipotong untuk membuang sial

Mitos. Belum ada penelitian yang membuktikan hal ini.

 

Setelah sirkumsisi/khitan anak akan tumbuh lebih cepat

Mitos. Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh usia dan gizi dan hingga saat ini belum ada penelitian yang dapat mendukung hal ini.  Sehingga hal ini masih tergolong mitos.

 

Tidak boleh makan daging ayam dan telur setelah sirkumsisi/khitan, karena luka lama sembuh.

Mitos. ayam dan telur merupakan salah satu sumber protein. Protein adalah salah satu nutrisi paling penting untuk penyembuhan luka (7,8). Kekurangan protein dapat mengganggu pembentukan pembuluh darah kapiler, proliferasi fibroblas, sintesis proteoglikan, sintesis kolagen dan pada akhirnya menghambat penyembuhan luka. Kekurangan protein juga dapat mempengaruhi sistem imun, yang mengurangi jumlah fagositosis leukosit dan meningkatkan kerentanan untuk terjadinya infeksi. Sehingga, konsumsi sumber protein termasuk ayam dan telur dianjurkan, kecuali bila memiliki alergi terhadap bahan makanan tersebut. 

 

Artikel kerjasama dengan Doctormums (www.doctormums.com)

 

Referensi:

  1. Lukong, C. Circumcision: COntroversies and Prospects. J Surg Tech Case Rep. 2011 Jul-Dec; 3(2): 65–66.

  2. WHO, UNAIDS. Male Circumcision; Global trends and determinants of prevalence, safety and acceptability. 2007. Diunduh dari : http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/43749/1/9789241596169_eng.pdf

  3. CDC. Male Circumcision. Diunduh dari: http://www.cdc.gov/hiv/pdf/prevention_research_malecircumcision.pdf

  4. Setiawan, E. Kamus Besar Bahasa Indonesia Online versi 1.5. Diunduh dari: http://kbbi.web.id/mitos

  5. Mianoki, A. 8 Mitos Seputar Khitan.  Diunduh dari: http://kesehatanmuslim.com/8-mitos-seputar-khitan/

  6. Wikipedia. History of  Male Circumcision. Diunduh dari: https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_male_circumcision.

  7. Woodward M, Susan G, Rice J, et al, Editors. Expert guide for Healthcare Professional: Nutrition and Healing. 2009. Diunduh dari:http://www.awma.com.au/publications/2009_vic_expert_guide_nutrition_wound_healing.pdf

  8. Guo S, DiPietro LA. Factor Affecting Wound Healing. J Dent Res. 2010 Mar; 89(3): 219–229. Diunduh dari: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2903966/.


a

Please reload

Featured Posts

Perbandingan Teknik Khitan

December 1, 2015

1/2
Please reload

Recent Posts

December 1, 2015

December 1, 2015

Please reload

Archive